Sebelum saya mulai tentang nada tinggi, saya harus menjelaskan bahwa setiap orang memiliki range atau wilayah nada masing-masing. Teori musik secara umum membagi suara manusia menjadi soprano (tinggi wanita), alto (rendah wanita), tenor (tinggi pria), dan bass (rendah pria). Nah, seorang penyanyi dengan suara bass, tentu tidak bisa memaksakan diri menjadi seorang soprano, begitupun sebaliknya. Tetapi, ternyata kebanyakan penyanyi belum memaksimalkan range vokal yang ia miliki. Dengan latihan yang cukup hal ini bisa diatasi.
Dalam video demonstrasi berikut ini, saya (seorang dengan wilayah nada tenor) menyanyikan latihan dengan tangga nada major, dari Do naik ke Sol, turun ke Do lagi lalu naik ke Do oktaf, turun ke Do bawah lagi lalu naik ke Fa oktaf atas dan ditahan sebentar di situ, lalu turun lagi ke Do awal. Latihan ini seirng digunakan penyanyi klasik.
Saya sendiri masih terus belajar, apalagi kalau melihat penyanyi klasik seperti Pavarotti yang bisa menyanyikan nada tinggi dengan prima dan tanpa susah payah, saya tentu masih jauh. Tetapi paling tidak saya sudah cukup terlatih untuk bisa menyanyikan high C bahkan sampai ke D5, nada tinggi yang menjadi momok bagi para pria tenor, dengan santai, rileks dan tidak masuk ke suara falsetto (suara tinggi yang tipis seperti Mickey Mouse). Bagaimana melakukan hal ini?
Jadi range vokal kita dibagi oleh register yang umumnya adalah chest voice dan head voice. Chest voice adalah register suara kita seperti saat kita berbicara atau lebih rendah. Sedangkan head voice adalah saat kita berbicara seperti Mickey Mouse dengan kualitas suara yang tipis. Lalu apa itu falsetto? beberapa guru vokal memperdebatkan definisi falsetto, tetapi dalam pengertian saya, falsetto adalah suara yang dibunyikan dalam register head voice, tetapi dengan kualitas yang lebih tipis, mendesah, dan bocor. Saat falsetto ini pita suara kita terdengar tidak menutup sehingga ada desahan dan udaranya bocor dan boros. Nah banyak penyanyi suara chest voice dan head voicenya tidak menyatu, sehingga saat ia ingin menyanyikan nada tinggi, ia memaksakan chest voicenya naik ke register head voice, tertekan, lalu pecah/flip menjadi falsetto. Sehingga suara rendah dan tingginya tidak connected.
Dalam video ini, saya berangkat dari chest voice, lalu naik ke head voice, tetapi masih ada resonansi chest voice di situ, sehingga suara yang dihasilkan saat di atas tidak tipis, masih ada ketebalan di situ. Biasanya ini disebut mixed voice, yaitu gabungan antara chest dengan head voice.
Dalam masterclass-nya Pavarotti menjelaskan bahwa saat dia menyanyikan nada tinggi (tidak falsetto), posisi larynx, atau tenggorokan yang terdapat pita suara, dalam posisi rileks, tidak ada tekanan yang menyakitkan, bahkan posisinya seperti saat berbicara, posisi istirahat. Inilah teknik vokal yang benar dan aman bagi pita suara kita. Saya tidak merasakan ketegangan sama sekali pada leher saya saat menyanyikan nada-nada tinggi dalam video ini seperti anda lihat sendiri. Hal ini memerlukan latihan yang banyak, karena menyangkut koordinasi otot dan pengaturan pernafasan.
Lain kali saya akan membuat tutorial mengenai latihan untuk melatih nada tinggi. Tetapi untuk sekarang yang penting saya ingin berbagi bahwa dengan teknik vokal yang baik, kita bisa menyanyikan nada tinggi tanpa menciderai vokal kita. Untuk bacaan lebih lanjut, silahkan anda google beberapa keyword ini: Bel Canto, Speech Level Singing, Mix Voice.
Sabtu, 12 November 2011
Memperluas Range Vocal
Setiap manusia memiliki vokal yang unik, tidak ada satupun yang betul-betul sama persis. Kualifikasi sopran, alto, tenor, dan bass adalah kualifikasi secara umum yang digunakan pelatih paduan suara, apakah kualifikasi tsb. merupakan hal yang sudah pasti, misalnya apakah seorang soprano sudah pasti memiliki range C4-C6 dan tenor C3-C5? tidak juga, karena setiap orang memiliki suara yang unik. Umumnya laki-laki memiliki suara lebih rendah dibanding perempuan, hal ini disebabkan karena pita suara yang dimiliki laki-laki lebih tebal dan panjang, sedangkan perempuan lebih tipis dan pendek. Jika anda lihat senar pada gitar, senar 6, yaotu yang paling atas, yang suaranya paling ngebass, pasti lebih tebal dibanding senar yang paling tinggi yaitu senar 1 yang tipis di bawah.
Apakah range suara bisa diperluas, jawabannya, ya, bisa. Tetapi seorang yang suaranya masuk kualifikasi bass, tentu tidak akan lalu berubah menjadi seorang sopran, ataupun sebaliknya. Sama halnya sebuah gitar tidak bisa memainkan nada rendah seperti sebuah bass. Kalaupun seorang bass bisa menyanyikan nada dalam range alto, suaranya tidak akan sehalus dan sebagus seorang alto yang menyanyikan, begitu juga sebaliknya. Saya dalam melatih paduan suara seringkali harus memberi contoh penyanyi sopran bagaimana menyanyikan bagian mereka, saya contohkan dengan nada tinggi ala sopran, tetapi tentu suaranya terdengar aneh, tidak akan sebagus jika seorang sopran yang menyanyikannya.
Berita bagusnya, kebanyakan dari kita belum menggunakan range kita secara maksimal. Itu yang harus kita latih, menggunakan range suara secara maksimal. Dulu sebelum berlatih vokal secara intensif, nada paling rendah yang bisa saya nyanyikan paling hanya sampai A, tetapi setelah berlatih saya sekarang bisa mencapai F# di bawah A yang dulu, cukup signifikan. Untuk nada tinggi, penyanyi harus belajar menyanyikan nada tinggi tanpa ada tekanan dan paksaan, belajar mengenai suara dada dan suara kepala, lalu berlatih untuk menghaluskan transisi antara keduanya. Metode menghaluskan transisi (biasa disebut pasaggio di ilmu vokal klasik) dulunya dilatih dalam metode Bel Canto, sebuah metode yang berkembang pada abad 17an.
Latihan apa yang bisa kita lakukan untuk memperluas range vokal kita? contoh latihan, lip trill atau buat suara brrrr dengan bibir atau tounge trill suara brrrr dengan lidah, lalu dengungkan nada do mi sol do sol mi do, setelah itu naik setengah nada dan lakukan lagi, lakukan latihan ini dan saat anda semakin tinggi, rasakan suara anda berpindah dari depan ke belakang tenggorokan, biarkan hal itu terjadi secara alami, rasakan suara anda menjadi lebih ringan dan enteng, jadi jangan dipaksakan atau dutarik hingga urat leher anda tegang, semuanya harus tetap rileks. Jika terasa tegang saat meraih nada tinggi, bungkukkan badan anda saat nadanya tinggi, lalu kembali tegak saat nadanya turun.
Latihan di atas hanyalah satu contoh dari latihan vokal yang baik untuk memperluas range kita. Anda bisa mencari banyak contoh latihan lainnya di YouTube, tetapi ingat, jika latihan tersebut terasa tidak nyaman atau bahkan sakit, sebaiknya tidak diteruskan. Selamat mencoba!
Apakah range suara bisa diperluas, jawabannya, ya, bisa. Tetapi seorang yang suaranya masuk kualifikasi bass, tentu tidak akan lalu berubah menjadi seorang sopran, ataupun sebaliknya. Sama halnya sebuah gitar tidak bisa memainkan nada rendah seperti sebuah bass. Kalaupun seorang bass bisa menyanyikan nada dalam range alto, suaranya tidak akan sehalus dan sebagus seorang alto yang menyanyikan, begitu juga sebaliknya. Saya dalam melatih paduan suara seringkali harus memberi contoh penyanyi sopran bagaimana menyanyikan bagian mereka, saya contohkan dengan nada tinggi ala sopran, tetapi tentu suaranya terdengar aneh, tidak akan sebagus jika seorang sopran yang menyanyikannya.
Berita bagusnya, kebanyakan dari kita belum menggunakan range kita secara maksimal. Itu yang harus kita latih, menggunakan range suara secara maksimal. Dulu sebelum berlatih vokal secara intensif, nada paling rendah yang bisa saya nyanyikan paling hanya sampai A, tetapi setelah berlatih saya sekarang bisa mencapai F# di bawah A yang dulu, cukup signifikan. Untuk nada tinggi, penyanyi harus belajar menyanyikan nada tinggi tanpa ada tekanan dan paksaan, belajar mengenai suara dada dan suara kepala, lalu berlatih untuk menghaluskan transisi antara keduanya. Metode menghaluskan transisi (biasa disebut pasaggio di ilmu vokal klasik) dulunya dilatih dalam metode Bel Canto, sebuah metode yang berkembang pada abad 17an.
Latihan apa yang bisa kita lakukan untuk memperluas range vokal kita? contoh latihan, lip trill atau buat suara brrrr dengan bibir atau tounge trill suara brrrr dengan lidah, lalu dengungkan nada do mi sol do sol mi do, setelah itu naik setengah nada dan lakukan lagi, lakukan latihan ini dan saat anda semakin tinggi, rasakan suara anda berpindah dari depan ke belakang tenggorokan, biarkan hal itu terjadi secara alami, rasakan suara anda menjadi lebih ringan dan enteng, jadi jangan dipaksakan atau dutarik hingga urat leher anda tegang, semuanya harus tetap rileks. Jika terasa tegang saat meraih nada tinggi, bungkukkan badan anda saat nadanya tinggi, lalu kembali tegak saat nadanya turun.
Latihan di atas hanyalah satu contoh dari latihan vokal yang baik untuk memperluas range kita. Anda bisa mencari banyak contoh latihan lainnya di YouTube, tetapi ingat, jika latihan tersebut terasa tidak nyaman atau bahkan sakit, sebaiknya tidak diteruskan. Selamat mencoba!
Melatih Artikulator Vocal
Instrumen vokal kita memiliki generator, producer, resonator, dan articulator. Articulator adalah mulut kita, termasuk di dalamnya lidah. Apa fungsinya? Ketika kita berbicara, kita membentuk kata-kata, dengan konsonan dan vokal a, i, u, e dan o, yang membentuk suara tersebut adalah bentuk mulut dan bibir kita, juga posisi lidah.
Perhatikanlah bagaimana bentuk dan posisinya ketika kita mengucap misalnya “a”, atau “mi”, atau “do”, semuanya berbeda. Dalam menyanyi tentunya hal ini sangat penting, terutama jika lagu yang dinyanyikan ada liriknya. Kita juga mengetahui ada banyak otot yang terlibat dalam menggerakkan articulator kita. Dan seperti otot lainnya dalam tubuh kita, otot articulator juga perlu dilatih agar bisa berfungsi maksimal, khususnya bagi public speaker, announcer, dan tentunya vocalists.
Dalam rutin saya ada beberapa pola yang digunakan. Salah satunya yang umum adalah dengan mengulang kalimat “tip, tip, tip, tip of the tounge” pola lainnya dengan “will you, will you, will you, will you william” untuk vokalis tentu dengan nada. Latihan lain adalah dengan “ma, me, mi, mo, mu, ka, ke, ki, ko, ku, sa, se, si, so, su, dst.” Beberapa latihan sederhana di atas akan melatih fleksibilitas articulator anda, dan membuatkan siap bekerja dengan maksimal sesuai kebutuhan anda. Selamat mencoba.
Perhatikanlah bagaimana bentuk dan posisinya ketika kita mengucap misalnya “a”, atau “mi”, atau “do”, semuanya berbeda. Dalam menyanyi tentunya hal ini sangat penting, terutama jika lagu yang dinyanyikan ada liriknya. Kita juga mengetahui ada banyak otot yang terlibat dalam menggerakkan articulator kita. Dan seperti otot lainnya dalam tubuh kita, otot articulator juga perlu dilatih agar bisa berfungsi maksimal, khususnya bagi public speaker, announcer, dan tentunya vocalists.
Dalam rutin saya ada beberapa pola yang digunakan. Salah satunya yang umum adalah dengan mengulang kalimat “tip, tip, tip, tip of the tounge” pola lainnya dengan “will you, will you, will you, will you william” untuk vokalis tentu dengan nada. Latihan lain adalah dengan “ma, me, mi, mo, mu, ka, ke, ki, ko, ku, sa, se, si, so, su, dst.” Beberapa latihan sederhana di atas akan melatih fleksibilitas articulator anda, dan membuatkan siap bekerja dengan maksimal sesuai kebutuhan anda. Selamat mencoba.
Antara Ciri Khas Dan Tekhnik Vocal
Hal ini sering kali menjadi pertanyaan bagi para vokalis yang telah berkarir cukup lama dan memiliki kebiasaan tertentu dalam bernyanyi sebelum mulai belajar vokal. “Apakah seseorang bisa kehilangan ciri khas-nya setelah belajar vokal?” Seorang kenalan saya bahkan telah “menuduh” seorang vokalis yang setelah belajar vokal secara formal, kemampuannya bernyanyi malah menurun. Jawaban saya adalah, hal itu bisa saja terjadi. Namun jika ia belajar secara menyeluruh, saya jamin kemampuan bernyanyi seseorang tidak akan menurun setelah belajar vokal.
Yang banyak terjadi adalah, setelah beberapa pertemuan belajar vokal, mengetahui tentang kesehatan vokal, teknik yang benar, dsb. Seorang penyanyi yang telah memiliki kebiasaan tertentu secara natural akan berusaha melakukan beberapa penyesuaian. Tentu ia menginginkan vokalnya tetap prima dan meningkatkan kemampuannya dalam bernyanyi, jika tidak, dari awal mungkin ia tidak akan belajar. Nah, fase inilah yang biasanya memberikan kesan kemampuan seseorang menurun, atau seorang vokalis kehilangan ciri khas-nya. Dan fase ini pula biasanya seseorang yang belajar setengah-setengah akan berhenti belajar.
Bagi penyanyi rock, justru belajar vokal adalah keputusan yang baik. Belajar vokal TIDAK bertujuan “meluruskan” gaya rock seseorang, melainkan membekali rocker tersebut dengan pengetahuan tentang instrumen vokalnya. Sehingga vokalis tersebut tahu betul apa yang ia lakukan dan melakukannya dengan penuh kesadaran. Selain itu, berbagai latihan teknik vokal akan memperkuat instrumennya tersebut, memperkuat dan ultimately, melindungi.
Saya bukan dokter, bukan pula penyanyi yang sangat bagus, namun saya tahu benar akibat jangka panjangnya jika instrumen vokal kita yang ringkih ini diberi tekanan terus menerus. Vokalnya bisa mengalami cidera, bahkan kehilangan suaranya secara permanen. Bagi seorang penyanyi rock untuk bisa menjaga vokalnya sampai tua, ia harus belajar bagaimana melakukan pemanasan vokal, bagaimana melakukan senam vokal sehari-hari, bagaimana teknik pernafasan, postur, dll.
Untuk perbandingan, anda mungkin pernah mendengar yang namanya Parkour, yaitu seni kelincahan tubuh seperti Jackie Chan, yang memungkinkan seseorang untuk bisa melompat dari gedung ke gedung, mendarat dengan selamat dari ketinggian, dan memanjat tanpa bantuan apapun. Di balik semua itu, ada sesi latihan yang panjang dan keras, baik fisik dan mental. Seorang pelaku Parkour tidak akan melakukannya begitu saja kalau ingin selamat.
Saran saya adalah bagi siapa saja yang telah bernyanyi cukup lama dan ingin belajar vokal, lakukanlah, dan lakukanlah secara serius sekalian. Latih teknik pernafasan anda, postur, dan sebagainya sehingga anda bisa melakukan semua itu tanpa berpikir lagi. Berlatih dengan teknik di ruang latihan. Namun saat di panggung, lupakan semuanya dan menyanyilah seperti biasa. Saya yakin anda akan tetap memiliki ciri khas anda, hanya, anda akan melakukannya dengan lebih baik dan lebih sehat.
Yang banyak terjadi adalah, setelah beberapa pertemuan belajar vokal, mengetahui tentang kesehatan vokal, teknik yang benar, dsb. Seorang penyanyi yang telah memiliki kebiasaan tertentu secara natural akan berusaha melakukan beberapa penyesuaian. Tentu ia menginginkan vokalnya tetap prima dan meningkatkan kemampuannya dalam bernyanyi, jika tidak, dari awal mungkin ia tidak akan belajar. Nah, fase inilah yang biasanya memberikan kesan kemampuan seseorang menurun, atau seorang vokalis kehilangan ciri khas-nya. Dan fase ini pula biasanya seseorang yang belajar setengah-setengah akan berhenti belajar.
Bagi penyanyi rock, justru belajar vokal adalah keputusan yang baik. Belajar vokal TIDAK bertujuan “meluruskan” gaya rock seseorang, melainkan membekali rocker tersebut dengan pengetahuan tentang instrumen vokalnya. Sehingga vokalis tersebut tahu betul apa yang ia lakukan dan melakukannya dengan penuh kesadaran. Selain itu, berbagai latihan teknik vokal akan memperkuat instrumennya tersebut, memperkuat dan ultimately, melindungi.
Saya bukan dokter, bukan pula penyanyi yang sangat bagus, namun saya tahu benar akibat jangka panjangnya jika instrumen vokal kita yang ringkih ini diberi tekanan terus menerus. Vokalnya bisa mengalami cidera, bahkan kehilangan suaranya secara permanen. Bagi seorang penyanyi rock untuk bisa menjaga vokalnya sampai tua, ia harus belajar bagaimana melakukan pemanasan vokal, bagaimana melakukan senam vokal sehari-hari, bagaimana teknik pernafasan, postur, dll.
Untuk perbandingan, anda mungkin pernah mendengar yang namanya Parkour, yaitu seni kelincahan tubuh seperti Jackie Chan, yang memungkinkan seseorang untuk bisa melompat dari gedung ke gedung, mendarat dengan selamat dari ketinggian, dan memanjat tanpa bantuan apapun. Di balik semua itu, ada sesi latihan yang panjang dan keras, baik fisik dan mental. Seorang pelaku Parkour tidak akan melakukannya begitu saja kalau ingin selamat.
Saran saya adalah bagi siapa saja yang telah bernyanyi cukup lama dan ingin belajar vokal, lakukanlah, dan lakukanlah secara serius sekalian. Latih teknik pernafasan anda, postur, dan sebagainya sehingga anda bisa melakukan semua itu tanpa berpikir lagi. Berlatih dengan teknik di ruang latihan. Namun saat di panggung, lupakan semuanya dan menyanyilah seperti biasa. Saya yakin anda akan tetap memiliki ciri khas anda, hanya, anda akan melakukannya dengan lebih baik dan lebih sehat.
Tekhnik Bernafas Dengan Diafragma
Ketika Anda menghirup nafas, bayangkan Anda mengisi paru-paru Anda dengan udara dengan mengisi bagian dasar terlebih dulu lalu terus ke atas seperti Anda mengisi botol minuman Anda dengan air. Ketika pernafasan yang Anda lakukan benar, maka Anda akan merasakan bagian tekanan di perut bagian depan, samping, bahkan belakang, ini yang dikenal sebagai pernafasan 360 derajat atau lebih populer dengan istilah pernafasan diafragma, di mana otot diafragma berkontraksi maksimal seiring dengan pernafasan.
Untuk mengetahui hal ini, posisikan pegangan Anda di perut bagian samping tepat di bawah rusuk dengan keempat jari-jari di depan dan ibu jari di belakang dan tarik nafas, usahakan agar bukan hanya perut bagian depan saja yang mengembang tetapi bagian samping dan belakang juga ikut mengembang, gunakan imajinasi Anda dan rasakan perbedaannya.
Diafragma adalah otot besar yang terletak tepat di bawah tulang rusuk terakhir, yang menempel di tulang belakang, tulang rusuk dan tulang dada. Otot diafragma adalah otot utama yang digunakan saat menghirup nafas, ketika otot diafragma berkontraksi, ia bergerak ke bawah, yang menyebabkan tekanan udara di dalam paru-paru menurun dan menyebabkan masuknya udara. Pergerakan otot diafragma menyebabkan pergeseran pada organ perut menyebabkan perut mengembang. maka sebaiknya kita tidak menahan perut kita saat bernafas untuk memaksimalkan pernafasan kita saat bernyanyi.
Untuk menghembuskan udara, hanya dengan melemaskan otot diafragma pada saat paru-paru sudah terisi penuh sudah cukup untuk mendorong udara keluar, namun untuk dapat menyanyi dengan baik, hal ini saja tidaklah cukup. Seorang vokalis sebaiknya mampu mengontrol tekanan udara di paru-paru, seberapa banyak dan seberapa cepat udara keluar masuk, dan bisa mempertahankan konsistensinya dengan menggunakan otot diafragma, inilah yang disebut sebagai support.
Banyak penyanyi yang mengeluhkan diri mereka memiliki pernafasan yang dangkal. Hal ini disebabkan karena pada saat menghirup nafas, mereka tidak mengisi paru-paru mereka dari bagian dasar ke atas, melainkan langsung mengisinya di bagian atas, hal ini dapat terlihat ketika dada dan bahu kita naik pada saat menghirup nafas. Usahakan untuk memperhatikan dan menghindari hal ini.
Untuk mengetahui hal ini, posisikan pegangan Anda di perut bagian samping tepat di bawah rusuk dengan keempat jari-jari di depan dan ibu jari di belakang dan tarik nafas, usahakan agar bukan hanya perut bagian depan saja yang mengembang tetapi bagian samping dan belakang juga ikut mengembang, gunakan imajinasi Anda dan rasakan perbedaannya.
Diafragma adalah otot besar yang terletak tepat di bawah tulang rusuk terakhir, yang menempel di tulang belakang, tulang rusuk dan tulang dada. Otot diafragma adalah otot utama yang digunakan saat menghirup nafas, ketika otot diafragma berkontraksi, ia bergerak ke bawah, yang menyebabkan tekanan udara di dalam paru-paru menurun dan menyebabkan masuknya udara. Pergerakan otot diafragma menyebabkan pergeseran pada organ perut menyebabkan perut mengembang. maka sebaiknya kita tidak menahan perut kita saat bernafas untuk memaksimalkan pernafasan kita saat bernyanyi.
Untuk menghembuskan udara, hanya dengan melemaskan otot diafragma pada saat paru-paru sudah terisi penuh sudah cukup untuk mendorong udara keluar, namun untuk dapat menyanyi dengan baik, hal ini saja tidaklah cukup. Seorang vokalis sebaiknya mampu mengontrol tekanan udara di paru-paru, seberapa banyak dan seberapa cepat udara keluar masuk, dan bisa mempertahankan konsistensinya dengan menggunakan otot diafragma, inilah yang disebut sebagai support.
Banyak penyanyi yang mengeluhkan diri mereka memiliki pernafasan yang dangkal. Hal ini disebabkan karena pada saat menghirup nafas, mereka tidak mengisi paru-paru mereka dari bagian dasar ke atas, melainkan langsung mengisinya di bagian atas, hal ini dapat terlihat ketika dada dan bahu kita naik pada saat menghirup nafas. Usahakan untuk memperhatikan dan menghindari hal ini.
Tekhnik Vocal Yang Baik Dan Benar
Kalimat judul di atas sering sekali saya dengar. Mengikutinya, adalah serangkaian kalimat lain yang tidak mudah difahami, seperti menyanyi dari perut, pernafasan yang rendah, lidah turun, tenggorokan dibuka, postur, resonansi dan bla bla bla. Saya belajar vokal sejak kecil, dan berkesempatan untuk berguru kepada beberapa orang yang sangat membantu saya dalam mendapatkan kemajuan yang saya inginkan. Saya pun telah mengajar vokal dalam beberapa tahun terakhir ini, selain untuk berbagi ilmu saya juga mengajar untuk belajar dan untuk memaksa diri saya untuk berlatih secara rutin. Pengalaman yang saya dapatkan dari semua itu membuat saya memandang kalimat “teknik vokal yang baik dan benar” secara berbeda dari sebelumnya.
Teknik vokal membuat menyanyi menjadi lebih mudah, membuat suara kita semakin jelas dan bertenaga, meningkatkan stamina dalam bernyanyi, dan paling penting, mencegah kerusakan pada instrumen vokal kita yang tidak dijual di mana-mana ini. Setiap guru memiliki metode mereka masing-masing dalam mengajar teknik vokal. Bagi saya, satu kunci yang sangat penting mengenai hal ini adalah, jika menyanyi menyakitkan, stop. Pasti ada yang salah dengan sesuatu, entah itu teknik anda, atau jangan-jangan instrumen vokal anda mengalami kerusakan. Berikutnya yang saya jadikan aturan utama adalah sebelum dan saat anda bernyanyi, anda harus dalam keadaan relaks. Relaks akan mengoptimalkan pernafasan anda, dan memastikan tidak ada ketegangan otot yang tidak perlu dan membuang energi.
Saya menyarankan kepada semua penyanyi, agar walau anda sudah berkarir sebagai vokalis, sebaiknya anda tetap mencari seorang pelatih vokal agar anda senantiasa diingatkan kembali untuk rutin berlatih dan menguatkan otot-otot instrumen vokal anda, demi meningkatkan terus performa vokal anda dan meningkatkan kesehatan anda secara umum.
Blog ini juga saya dedikasikan bagi para pecinta vokal. Saya senang bisa berbagi. Saya sendiri bukanlah penyanyi yang sudah excellent, tetapi apa-apa yang saya tulis tentang teknik vokal telah terbukti membantu saya selama saya bernyanyi. Silahkan memilih category > vokal untuk membaca berbagai artikel yang saya tulis.
Teknik vokal membuat menyanyi menjadi lebih mudah, membuat suara kita semakin jelas dan bertenaga, meningkatkan stamina dalam bernyanyi, dan paling penting, mencegah kerusakan pada instrumen vokal kita yang tidak dijual di mana-mana ini. Setiap guru memiliki metode mereka masing-masing dalam mengajar teknik vokal. Bagi saya, satu kunci yang sangat penting mengenai hal ini adalah, jika menyanyi menyakitkan, stop. Pasti ada yang salah dengan sesuatu, entah itu teknik anda, atau jangan-jangan instrumen vokal anda mengalami kerusakan. Berikutnya yang saya jadikan aturan utama adalah sebelum dan saat anda bernyanyi, anda harus dalam keadaan relaks. Relaks akan mengoptimalkan pernafasan anda, dan memastikan tidak ada ketegangan otot yang tidak perlu dan membuang energi.
Saya menyarankan kepada semua penyanyi, agar walau anda sudah berkarir sebagai vokalis, sebaiknya anda tetap mencari seorang pelatih vokal agar anda senantiasa diingatkan kembali untuk rutin berlatih dan menguatkan otot-otot instrumen vokal anda, demi meningkatkan terus performa vokal anda dan meningkatkan kesehatan anda secara umum.
Blog ini juga saya dedikasikan bagi para pecinta vokal. Saya senang bisa berbagi. Saya sendiri bukanlah penyanyi yang sudah excellent, tetapi apa-apa yang saya tulis tentang teknik vokal telah terbukti membantu saya selama saya bernyanyi. Silahkan memilih category > vokal untuk membaca berbagai artikel yang saya tulis.
Langganan:
Postingan (Atom)